SANG PENDEKAR ITU BERNAMA SOMAD

 

Tubuhnya bergerak lincah dengan mengeluarkan jurus - jurus Kuntow. Tangan - kakinya memukul dan menendang kearah lawan hingga tak berkutik, jatuh tersungkur ke tanah. Perawakannya tidak begitu besar. Postur tubuhnya cenderung kurus dengan tinggi tubuh sekitar 169 cm. Raut wajahnya mencerminkan bahwasannya sosok ini adalah seorang pekerja keras yang tak pantang menyerah. Dia adalah Abdul Somad, salah satu pelatih kuntow yang ada di Kota Tarakan.

Kuntow sendiri, merupakan seni bela diri suku Tidung Kalimantan Utara.  Ia pun bercerita, sudah belajar kuntow sejak kecil hingga remaja di tahun 80-an. Menurutnya, belajar kuntow sangat penting untuk pertahanan diri.


“Paman”  begitu ia kerap disapa oleh orang - orang disekitarnya, sudah melatih kuntow selama 2 tahun. Muridnya ada 11 orang dan mereka biasanya latihan kuntow dua kali seminggu, di malam hari. Sebab pada siang hari, ia harus menjalani profesinya sebagai nelayan di kawasan laut Mamburungan - Kota Tarakan. Somad sangat bangga menjalani kegiatan sampingannya sebagai pelatih kuntow. Alasannya, kuntow yang menggunakan jurus - jurus layaknya silat, harus ia ajarkan ke anak cucu atau kelingkup keluarga. Menurutnya amanah leluhur, mengharuskan kuntow tidak boleh diajarkan kepada masyarakat umum. Tak heran, seni bela diri ini tidak begitu populer di Tarakan.

Pria berusia 53 tahun ini pun lalu menjelaskan perbedaan silat dan kuntaw. Menurutnya, yang membedakan adalah kuntaw hanya mempunyai 10 jurus, sedangkan silat mempunyai banyak jurus. Dalam seni beladiri ini lebih banyak jurus bunga. Artinya, ketika akan mengeluarkan langkah demi langkah, dimulai dengan bunga atau gaya khas. Kecepatan dan ketangkasan pun diperlukan untuk menjatuhkan lawan.


Walau tidak untuk umum dan tidak dipertandingkan, namun beladiri ini dapat menjadi sebuah pertunjukan dalam sebuah moment budaya. Jaelani, salah satu mahasiswa  PPKIA Tarakan dan sekaligus murid pun senang bisa belajar kuntow dengan Abdul Somad. Manfaat yang ia rasakan, selain badan terasa lebih sehat, yang paling penting adalah ia dapat mengisi waktu luang yang lebih bermanfaat.

Seni bela diri kuntaw ini termasuk yang hamper punah. Namun merupakan sebuah warisan budaya lokal tidung Ulun Pagun.  Sudah sepatutnya setiap masyarakat Tidung melestarikan seni bela diri ini sebagai pelindung diri dari setiap kejahatan yang bisa datang kapanpun.

Script by. Esti Murdiastuti


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“ T U N D O K “ [Cara pengobatan tradisional adat budaya suku Tidung]

BATIK TARAKAN RAMAH LINGKUNGAN