Aseng, Warkop Tiga Generasi Anti Degradasi

 


“ Sangat (sulit bagi kami), sangat.. sampai saya harus mengorbankan mobil saya untuk dijual, untuk membayar / membiayai anak-anak, Kasian. Tidak ada pengurangan?  Tidak ada. Gini loh mbak, kita gak sampai hati, kadang orang tuanya nitip ke kita gitu kan disini. Masa saya “hei kamu pulang aja” kan gak mungkin mbak. Saya juga punya hati nurani, bagaimana rasanya. Sama-sama semuanya kan merasa sulit. Bukan saya aja.”

 

Itulah ungkapan Feni, pemilik warung kopi Aseng di Tarakan Kalimantan Utara. Untuk bertahan di tengah badai pandemi yang turut juga melanda Tarakan, Ia tetap mempekerjakan karyawan warung-nya agar jangan sampai terjadi pengurangan tenaga kerja.



Di sudut kota Tarakan Kalimantan Utara, ada sebuah warung kopi tertua yang telah berdiri sejak tahun 1949. Namanya Warung Kopi Indra, tapi warga Tarakan lebih mengenalnya dengan Warung Kopi Aseng. 73 tahun warkop Aseng berdiri, namun tetap bertahan hingga kini walau pernah mengalami masa-masa sangat sulit di saat pandemi Covid 19.


Dibangun oleh seorang pemuda keturunan Tionghoa bernama Aseng,  warung kopi ini begitu terkenal. Sehingga hampir semua orang yang datang ke Tarakan wajib mampir ke Kedai Kopi Aseng. Dan salah satu menu andalan dan laris manis adalah Kopi.



Feni kemudian melanjutkan ceritanya, Sebenarnya warung Aseng sudah 3 generasi. Generasi yang pertama, kalo cerita nenek dulu tahun 1930-an di depan, itu masih kecil... cuma berapa orang.  Warung kecil - kecil gitu. Setelah bapak yang megang, kami tahunya bapak pegang tahun 1940 - an sudah mulai agak besar, sekitar tahun 1949-an gitu. Jadi kita ukur kannya tahun 1949 dah. Itu dari cerita nenek dulu”.

Mempertahankan arsitektur tua, memasuki Warung kopi 'Aseng' kita serasa dibawa ke masa 'tempoe doloe'. Bangunan khas dengan dinding papan dan tiang kayu tersaji, berkolaborasi dengan cat berwarna putih gading. Kursi plastik dan meja segi empat berjejer, khas warkop tradisional.

Terdapat tiga bagian ruangan, yakni ruang depan yang tergabung antara meja pelanggan, meja kasir dan meja kue yang tersaji. Kemudian di bagian belakang terdapat dua ruangan bagi pelanggan yang ingin lebih bersantai berkumpul bersama kolega.

Kesannya memang tak senyaman kafe atau coffeshop dengan sofa dan mesin pendingin ruangan. Di warkop ini, pintu bangunan terbuka lebar dan sebagai pendingin ruangan juga disiapkan kipas angin yang tertempel di atap. Segala kesannya, membuat kita merasakan sensasi ngopi sederhana ala Tempoe Doloe.




Lebih lanjut Feni berkisah, Seadanya aja mbak, Ya begini, memang begini lah dari dulunya. Jadi saya usahakan ya begini saja gak ada berubah lagi. Apa adanya saja mbak. Kita berjalan apa adanya. Sekarang ini kita belajar cukup aja dulu. Kalau gak berpikir cukup, kita gak bakalan akan cukup.


Fenny mengakui, yang spesial di warung kopi miliknya ini justru kopi olahan yang sejak dulu telah ditekuni secara turun temurun. Menggunakan hasil kopi masyarakat Malinau ataupun Sulawesi, lalu di sangrai sendiri dan diseduh, menjadikan kopi racikan khas warkop Aseng menjadi istimewa. Harga yang di tawarkan pun sangat terjangkau, sekitar Rp. 15.000 per -  cangkir. Selain itu, menu khusus lainnya adalah bakpau, bakpia dan roti - rotian. Ketiga produk tersebut dibuat sendiri dengan menggunakan bahan berkualitas dan tanpa pengawet. Tidak pelak rasanya terasa lembut di mulut.


Cuman kan kita, kopinya buat sendiri. Khasnya kopi kita aja sih. Selain itu, kue kan memang tidak pernah ada yang titipan orang. Semuanya kita bikin sendiri. Homade semuanya. Kalau kopinya dari mana? Kopinya campuran mbak. Kalau ada dari Malinau ya dari Malinau. Kalau ada dari Sulawesi ya ambil dari Sulawesi. Tapi gilingnya disini. Kita ada wajan sendiri untuk bakar, paparnya.

Di era budaya ngopi di Tarakan saat ini terlihat memang lagi jaya - jayanya. Tidak terhitung tempat nongkrong yang menyediakan kopi dengan makanan berat hingga ringan. Bahkan kafe - kafe modern juga menyajikan hiburan live music di hampir seluruh sudut kota Tarakan


Melihat kondisi ini, Fenni pun menganggap kafe - kafe yang tumbuh pesat di Tarakan tidak lah menjadi saingan bagi usahanya. Ia yakin, setiap kafe atau warung kopi punya keistimewaannya masing-masing. Sedangkan untuk Warung Kopi Aseng sendiri, tidak punya kiat khusus. Ia hanya menjalani usaha turun temurun ini dengan apa adanya.


Saya gak pernah mikir mbak. Makanya saya bilang, saya berjalan apa adanya. Kalau memang rezeki kan semua ada yang ngatur mbak. Itu aja saya berpikir. Gak ada masalah sih bagi saya. Orang boleh berkarya sebanyak - banyaknya silahkan. Berusaha sebanyak - banyaknya silahkan. Disyukuri ajalah. Pokoknya sehari dapat berapa ya disyukuri aja. Saya juga gak pernah menargetkan, saya harus dapatkan segini tuh... ya gak boleh. Jadi apa yang saya dapat, ya saya syukuri. Terima kasih untuk hari ini, Ujarnya.”



Warung kopi tradisional terkadang mempunyai pengunjung fanatik yang selalu setia selama bertahun tahun. Salah satunya Haryo, warga Kampung Bugis Tarakan. Ia sudah 6 tahun terakhir, setiap hari datang ke warkop Aseng untuk sekedar menikmati secangkir kopi.


Menurutnya, “Nyaman aja. Trus apa yang di cari?. Kopinya. Kopi apa yang sering di pesan?. Kopi susu?. Berapa jam biasanya disini?. 1,5 jam biasanya kalo jam kerja kan. Jam 12 sampai  jam 2 (siang), setelah itu balik ke kantor. Kalau gak jam kerja? Ya dari jam 1 sampai jam 12 nongkrong sampai jam 5 (sore) pulang. Kalau tutup sehari bagaimana?. Aku bikin tulisan di depan warung, dijual atau di kontrakan.” 😃😃😃


Script By. Esti Murdiastuti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG PENDEKAR ITU BERNAMA SOMAD

“ T U N D O K “ [Cara pengobatan tradisional adat budaya suku Tidung]

BATIK TARAKAN RAMAH LINGKUNGAN