BERTARUH NYAWA DEMI BISA SEKOLAH
Gambar Ilustrasi :
Perjuangan Anak - anak Pedalaman
“ Bertaruh Nyawa Demi Bisa Sekolah “
Kalimantan Utara, yang bertaruh nyawa demi bisa sekolah
Mendapatkan
Pendidikan yang layak adalah hak segala bangsa
di dunia ini, termasuk anak-anak Desa Setarap - Malinau
Selatan Hilir, Kalimantan Utara. Upaya
pemenuhan pendidikan di tanah air boleh dikata belum merata. Meski fasilitas pendidikan sudah dibangun dengan
sebaik-baiknya, namun sarana pendukung masih ada yang belum
terpenuhi.
Di pedalaman Kalimantan Utara, masih ditemukan
anak - anak yang menyeberangi sungai menggunakan ketinting (perahu kayu). Terkadang
kondisi sungai tidak bersahabat. Ketika angin kencang, ketinting yang ditumpangi terkadang oleng. Tentunya
para orangtua khawatir akan
keselamatan anak – anak mereka. Untuk memperoleh masa depan cerah ataupun cita - cita yang diinginkan, mereka bertaruh nyawa menggunakan perahu
ketinting setiap hari, demi mengenyam pendidikan.
Kepala Desa Setarap Jamie Luther,
menuturkan “ Kalau hari hujan, mereka tidak bisa mengikuti pendidikan.
Hujan, tidak bisa naik perahu. Kemudian kalau banjir, kita juga tidak berani
melepaskan mereka. Karena kondisi kalau banjir, gelombangnya agak tinggi”.
Zio Jalung, siswa SMA Negeri
15 Punan Setarap - Malinau Selatan Hilir, setiap harinya harus pulang pergi ke sekolah
menggunakan perahu ketinting yang ia motori bersama teman - temannya dari tempat tinggal
mereka. Sungai yang mereka lalui itu membelah dua desa yaitu Desa
Setarap dan Desa Punan Setarap.
Bersama tim
siaran peduli perbatasan dan daerah tertinggal, saya mengikuti perjalanan
mereka. Pagi itu turun hujan. Awalnya ia
ragu untuk berangkat ke sekolah. Karena jika
hujan deras, arus sungai yang ia susuri agak lumayan
keras. Namun akhirnya
ia dan teman - temannya pun pergi ke
sekolah bersama.
Sesampainya di sekolah, waktu sudah menunjukan pukul 9.30. Tentu saja ia dan teman - temannya sudah sangat terlambat untuk ke sekolah, jika dibandingkan waktu normal masuk sekolah yaitu jam 8 pagi. Lalu sampai di sekolah, ia tidak melihat satu pun guru yang hadir. Ia lalu memutuskan menunggu selama 30 menit. Tepat pukul 10, Zio bersama 6 temannya memutuskan kembali pulang ke
rumah.
Cuaca merupakan kendala besar untuk ke sekolah. Karena tidak hanya ia dan teman-temannya yang sulit melewati sungai dengan perahu, namun juga guru- gurunya. Apalagi
para guru di sekolahnya tidak berdiam di desa Punan, melainkan di Desa Setulang yang jaraknya sekitar 2 - 3 Km dari Desa Punan Setarap.
Zio pun
bercerita,” Yah, itu nah agak
Susah. Apalagi kalau hujan, sering telat. Kadang – kadang ketinting juga tenggelam atau rusak kalau cuacanya tidak
bagus”.
Kecamatan Malinau
Selatan Hilir berjarak
tempuh 2 jam perjalanan dari Kota Malinau. Untuk menuju ke daerah tersebut, kami harus menggunakan mobil bak terbuka dan melewati hutan lebat. Kondisi jalannya masih terlihat sangat buruk. Belum ber - aspal dan masih diselimuti tanah liat. Padahal menurut Kepala Desa Setarap Jamie Luther, ia sudah mengajukan permohonan pembangunan jalan dan jembatan penghubung Desa Setarap dan Punan Setarap
sejak 2012 lalu, namun hingga saat ini belum terealisasi.
“ Kalau
bisa, tahun ini juga itu dibangunlah jembatan tersebut dari rangka baja, kalau
memang dana dari pemerintah tidak bisa, jembatan gantung. Yang penting itu bisa
dilintasi sepeda motor. Karena mengapa, dibangunpun jembatan itu kalau anak –
anak kami jalan kaki sama saja. Jadi kalau bisa jembatan itu dibangun dengan
konstruksi yang bagus,” terang Jamie Luther.
Di tempat
terpisah, harapan Jamie Luther senada dengan dengan Camat Malinau Selatan
Hilir, Eka Setiawan. Menurut Eka, sebelumnya ia dan pihak Kementrian
Pekerjaan Umum dan Dinas Pekerjaan
Umum Malinau telah mensurvey kawasan Desa
Setarap. Dari hasil survey tersebut dijanjikan akan ada pembangunan jembatan penghubung dua desa tersebut.
Menanggapi jembatan gantung Desa Setarap yang sangat dibutuhkan saat ini, Kepala
Dinas Pekerjaan Umum Malinau Tomy Labo pun angkat bicara. “ Tahun ini dapat 5 titik jembatan gantung
untuk Malinau. Yang kita usulkan salah satunya itu jembatan gantung Setarap
menuju desa Punan Setarap sepanjang 120 meter”.
Pendidikan sejatinya harus dapat
dinikmati oleh semua anak yang terlahir di Indonesia, seperti
yang tertuang dalam Undang - Undang
Sistem Pendidikan Nasional. Dalam salah satu ayat disebutkan bahwa warga negara di
daerah terpencil atau terbelakang berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
Bukan hanya pemerintah, tapi kepedulian masyarakat akan pendidikan juga sangat dibutuhkan agar tidak ada lagi anak - anak
yang harus menantang
maut, bertaruh nyawa setiap hari, demi bisa
sekolah.
Jangan sampai,
anak - anak tidak bisa
sekolah karena lokasi sekolahannya sukar dijangkau. Karena anak - anak ini akan
menjadi generasi penerus. Apa jadinya kalau mereka tidak sekolah.
BERTARUH NYAWA DEMI
BISA SEKOLAH Ditulis oleh. Wukirsari Murdiastuti, SE [Penulis
Naskah - Naskah Feature RRI Tarakan]. Artikel ini merupakan salah satu
karya terbaiknya yang telah memenangkan penghargaan dari Komisi Penyiaran
Indonesia [KPI] pada bulan Desember 2021, kategori produksi program siaran
peduli perbatasan & daerah tertinggal.












Komentar
Posting Komentar