SAYONARA JEPANG
Saksi bisu kehadiran orang - orang Jepang di bumi Paguntaka, bukan hanya sekedar cerita melainkan sebuah kenyataan. Adanya peninggalan benda maupun situs - situs bersejarah, disimpan hingga saat ini, dan menjadi objek wisata yang selalu dikunjungi para turis dari Jepang saat berkunjung ke Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
Kepala Bidang
Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga,
serta Pariwisata Tarakan (Disporapar) Pemkot
Tarakan Abd. Salam, SS.,M.Hum, menjelaskan
kepada tim dokumenter RRI Tarakan, “Di belakang saya adalah tugu perabuan Jepang,
sebetulnya orang - orang di Tarakan terutama orang - orang tua yang lebih banyak
mengetahui ini, di kaitkan dengan Tugu
perabuan tentara Jepang.
Sebetulnya ini tidak terfokus pada tugu tentara Jepang, karena disitu ada huruf - huruf kanji yang menunjukkan tentang
latar belakang keberadaan Tugu ini. Jadi berdasarkan informasi yang ada pada saraha di badan Tugu ini, dibangun dan difungsikan pada 12
Desember tahun 1933. Artinya cukup jauh ke belakang
dibanding dengan informasi tentang keberadaan militer Jepang yang masuk di Tarakan pada tahun 1942. Terkait dengan Tugu ini, saya informasikan latar belakang sebetulnya, kenapa ada Tugu perabuan
Jepang di Tarakan. Ini terkait dengan keberadaan atau izin konsesi
beberapa perusahaan yang
memang berasal dari Jepang pada
tahun 1930 an itu, diberikan izin beroperasi oleh pemerintah di Tarakan. Karena wilayah
ini sebelumnya juga sudah menjadi
bagian dari Tarakan, sebagai bagian dari jajahan kolonial Belanda di tahun 1930-an. ini Perusahaan - perusahaan Jepang meminta konsesi
pertambangan, tetapi tidak pernah diberikan oleh pemerintah kolonial
Belanda.
Justru mereka diberikan izin untuk
melakukan eksploitasi yang khusus di bidang perkayuan, sehingga beberapa perusahaan Jepang itu kemudian
melakukan eksploitasi dan mendirikan beberapa consumers di Tarakan serta beberapa wilayah lain di
sekitarnya.
Di dalam catatan sejarah, wilayah - wilayah sekitarnya ini mencakup
sampai wilayah paling
utara yaitu
Nunukan.
Kemudian ke bawahnya bergeser
ke barat sedikit, ada
Pulau mandul, orang dusun menyebutnya Tanah Merah. Di sebelah timur, ada Pulau Bunyu termasuk Pulau Tarakan.
Tarakan di tahun 30-an sejak zaman Belanda memang sudah
menjadi pusat administrasi, termasuk administrasi kependudukan orang - orang Jepang tadi. Tercatat juga dalam sejarah, ada
12 perusahaan somel yang mengolah kayu menjadi kayu bantalan, yang kainnya memang berasal
dari wilayah utara Kalimantan.
Semua orang orang Jepang yang meninggal dikremasi, kemudian abunya di upacara kan di
sini.
Jadi intinya, tidak ada fisik manusia
yang dikuburkan di tempat ini, tetapi lebih kepada upacara
perabuan. Ini menunjukkan
bahwa jauh sebelum dikenal yang dihubungkan dengan Tarakan adalah militer Jepang ketika pertama
kali masuk melakukan penyerangan, tetapi jauh sebelumnya sudah banyak orang Jepang yang bermukim di Tarakan.
Dalam arsip terkait dengan yang sudah dilakukan
orang - orang Jepang di
wilayah Indonesia, termasuk sensus penduduk
mulai 29 sampai 1930. Di situ dinyatakan bahwa di Tarakan pada tahun 1936, ada
sekitar 10 kepala
keluarga yang artinya jika dalam 1 KK
saja ada suami dan istri, maka di Tarakan
saat waktu itu ada kurang lebih 20 orang yang
menetap.
Dari arah utara, ini adalah bagian dari media ketika ditahun - tahun kemudian disiapkan terkait hubungannya dengan Upacara penghormatan arwah leluhur orang - orang Jepang, baik sipil maupun militer Jepang yang meninggal di Tarakan
dan sekitarnya,
media ini dijadikan wadah untuk meletakkan karangan bunga dan lilin yang masih
dapat bertahan hingga saat ini. Dalam perkembangannya terutama untuk fungsi dan pemanfaatan lokasi selain dibutuhkan
pemerintah kota Tarakan untuk objek wisata sejarah, sekaligus sebagai
upaya Pelestarian yang kedepannya akan dijadikan sebagai cagar budaya.
Pada tahun 2001 dilakukan bentuk kegiatan perlindungan berupa pemagaran permanen keliling di lokasi ini. Kedua fungsi dan pemanfaatannya untuk
ibadah yang ada hubungannya dengan ceremony, juga turis - turis Jepang ataupun
orang - orang Jepang yang akan datang melakukan sembahyang untuk mendoakan para arwah leluhur mereka.
Jepang yang sebelumnya adalah konsumen utama dari eksploitasi hasil tambang minyak di Tarakan. Kemudian memasuki tahun 1940 kebutuhan akan sumber bahan bakar minyak Jepang yang semakin meningkat, Jepang meminta kuota yang lebih besar terhadap hasil tambang minyak bumi Belanda, akan tetapi tidak bisa dipenuhi sendiri, karena Belanda sendiri yang mengatur hasil minyak Tarakan. Untuk itu, Jepang yang yang memikirkan bagaimana caranya agar bangsa Jepang dapat memenuhi kebutuhan minyaknya, maka pihak Jepang melakukan produksi eksploitasi sumber daya alam terutama hutan, dengan melakukan eksplorasi pertambangan minyak.
Salah satu alasan kenapa Indonesia secara
keseluruhan, karena terutama dalam
gerakan secara geografis antara Tarakan
dengan Jepang yang terdekat di bagian Selatan. Pertama secara informasi terkait dengan perang dunia ke-2 dibanding
sebelumnya. Hubungannya dengan dalam
hal ini, Pemerintah membuat kebijakan
untuk melestarikan sekaligus sebagai informasi
terkait sejarah dan informasi terkait muatan nilai - nilai
sejarah.

.png)
.png)

.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar