TANE' OLEN "KARPET HIJAU ALAM SEMESTA "
Desa Setulang adalah tanah harapan yang dalam proses untuk layak menjadi
permukiman yang ditempuh lewat susah payah. Harapan itu pelan-pelan terwujud.
Dan yang tidak
kalah menariknya dari desa ini adalah tentang usaha para leluhur memelihara
semua warisan budaya yang dibawa serta dari desa mereka yang lama. Tari, musik,
keterampilan menganyam rotan dan pandan diturunkan dari generasi ke generasi.
Termasuk di sini soal budaya sebagai orang yang hidup dan berkawan dengan
sungai.
Desa Setulang
merupakan salah satu destinasi wisata di Kalimantan Utara, yang terletak di
Kabupaten Malinau. Di desa ini juga terdapat hutan adat Tane’ Olen yang cukup
luas, yaitu sekitar lebih dari 5.000 hektar dihiasi dengan pohon - pohon
raksasa berusia ratusan tahun, ibaratkan karpet hijau alam semesta.
Ditengah maraknya pembukaan lahan baru, Suku Uma’Lung bersikeras menjaga ribuan hektare hutan
di Desa Wisata Setulang, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Kabupaten Malinau,
Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Lalu, apakah
keistimewaan dari Desa Setulang ini?.
Jakson, Ketua Pengelola Tane’ Olen menuturkan : Kita masyarakat desa wisata
Setulang, sangat bergantung kepada Tane’ Olen. Pokoknya kita sayang, intinya
kita sayang dengan hutan. Karena hutan itu adalah hidup bersama – sama kita.
Ditetapkan sebagai kawasan hearth of
Borneo alias Jantung Borneo. Nah, salah satu wilayahnya yang memiliki
kearifan lokal dalam melindungi hutan atau Tane’ Olen adalah Desa Wisata
Setulang. Hutan ini juga disebut hutan larangan, karena dilindungi hukum adat
suku setempat. Wilayah ini mayoritas didiami suku Dayak Kenyah Uma’ Lung.
Hutan menjadi
sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Tidak tanggung - tanggung, suku
Uma’ Long memberlakukan hukum adat pada Tane’ Olen demi menjunjung tinggi
kelestarian keaneka ragaman hayati di dalamnya, sekaligus memenuhi kebutuhan
masyarakat setempat. Menebang sebatang pohon pun tidak diperkenankan oleh
masyarakat setempat, melalui hukum adat. Alhasil, hingga sekarang ini Tane’ Olen masih
menjadi hutan yang asri..
Menariknya,
bentuk kepedulian dan upaya yang dilakukan suku Dayak Uma’ Lung untuk
melindungi dan melestarikan hutannya secara turun temurun. Sejatinya sejak jaman
para leluhurnya, tidak ingin mengorbankan hutan.
Jakson, Ketua Pengelola Tane’
Olen kembali menuturkan : memang hutan ini tidak terlepas dari
kultur budaya Dayak secara menyeluruh, dan kita punya Culture [kultur] budaya
di dalamnya yang mungkin kalau suku – suku Uma’ Lung, dia harus memiliki sebuah hutan lindung
atau Tane’ Olen.
Tane' olen merupakan
salah satu kearifan lokal milik masyarakat Dayak Kenyah uma' Lung di Desa
Setulang dalam mengelola dan menjaga kelestarian hutan. Namun
keberlanjutan kearifan lokal tersebut dipastikan mendapat banyak tantangan
seiring dengan adanya perubahan berbagai situasi sosial yang terjadi di Desa
Setulang.
Seandainya hutan ini sudah dikelola oleh perusahaan, maka kita tidak lagi menemukan yang Namanya air bersih, mungkin kita tidak lagi menemukan yang Namanya kayu. Kita sudah tidak tahu lagi yang mana kayu jenis meranti, yang mana kayu kapu, artinya kan kita sudah kehilangan, yang mana dia kalau sudah hilang hutannya. Nah, jadi kalau begini… anak kecilpun kita tanya mereka pasti tahu, karena kita sudah mengajarkan. O, kayu yang besar di sana sejenis meranti, jadi mereka ke sana…o iya, betul. Daunya gini, sudah tahu. Jadi, saya sebagai Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Wisata Setulang, tentu dengan harapan dan merasa optimis tetap…. Hutan ini akan tetap ada, selalu ada untuk kita semua, karena hutan ini sangat berpengaruh sangat bermafaat untuk kita semua. Jangan untuk desa Setulang saja, tapi untuk kita di Indonesia bahkan di dunia. Jadi hutan ini sangat berpengaruh, banyak yang kita dapatkan dari hutan. Terutama dalam sub suku Uma’ Lung, kami sangat bergantung pada Hutan, jelas Jakson.
Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat merupakan produk warisan
nenek moyang yang terbukti mampu membawa hutan secara berkelanjutan dengan
pengakuan dimata negara melalui penghargaan kalpataru.
Lebih lanjut Jakson
mengungkapkan,”Yang ditakutkan kita kalau hutannya menghilang. Dengan kultur
budaya kebiasaan kita, sudah biasa dengan hutan. Ya, paling sudah tidak bisa lagi
ya, menemukan hutannya. Itu yang paling kita takutkan. Karena di dalam hutan
itu tadi terkandung apa… banyak. Misalkan tadi ada yang saya sebutkan… ada
damar, lalu kita harus membeli lem, padahal kita punya isi… ada damar di dalam.
Ada damarnya. Trus kita bisa menemukan madu di dalam. Harus kita membeli,
padahal kita punya. Karena kita kan rata – rata tidak sama. Trus kalau saya mau
membangun rumah, saya harus itu dari tiang sampai di atas itu beli, padahal
kita punya. Paling tidak meminimalisir pengeluaran kita dalam mendirikan rumah
tinggal kita”.
Hutan telah menyediakan segalanya, kearifan lokal adalah
kunci masyarakat Dayak Kenyah uma' Lung menjaga ketergantungan masyarakat
dengan alam.
Hutan itu adalah hidup. Hutan menyediakan segalanya untuk masyarakat, tegas Jakson menutup perbincangan.
.jpg)


.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)
Komentar
Posting Komentar